Ada yang sangat terpaksa berhenti kuliah sampai menjual surat aset rumah.

Posted in PSSI Tue, Aug, 4, 2015

Tidak cuma pesepakbola yang rasakan rugi dari berhentinya pertandingan disebabkan pembekuan PSSI oleh Kemenpora. Sebagian pihak juga sudah rasakan efeknya dari matinya sepakbola tanah air.

Mulai wasit, pengawas kompetisi pelatih, pemirsa sampai pedagang juga mengadu pada Komnas HAM supaya masalah sepakbola ini selekasnya selesai dengan dicabutnya surat pembekuan PSSI.

Seperti Yani, pedagang asongan yang menjual dagangannya di lokasi Stadion Gelora Bung Karno, terasa omzetnya alami penurunan disebabkan hilangnya kesibukan sepakbola di GBK – yang disebut markas dari Persija Jakarta waktu bertanding di Indonesia Super League. ” Pendapatan jadi alami penurunan mencolok lantaran tidak ada sepakbola. Umum bisa Rp50 ribu umpamanya, saat ini mungkin saja paling Rp15 ribu, ” keluhnya waktu melapor ke Komnas HAM, Senin (27/7).

Juga Hendri, pemuda yang umum menghasilkan serta jual atribut Persija. Hendri mengeluhkan apresiasi konsumen alami penurunan disebabkan tiadanya ISL. Automatis, pendapatannya juga menyusut serta ia sangat terpaksa melupakan kuliahnya lantaran cost hasil dagangan tidak memenuhi.

” Saya terasa rugi dengan apa yang telah dikerjakan Menpora. Umum kami memperoleh pendapatan besar dari berjualan merchandise Persija bila ada kompetisi. Seperti waktu Trofeo Persija yang di gelar Januari. Namun saat ini dapat pesanan ada selusin saja dalam satu bulan telah bagus. Pendapatan saya alami penurunan hingga mesti melupakan kuliah lantaran tak ada cost. Bila situasi begini berlangsung pada banyak pemuda seperti saya, bermakna ini sudah memutus pendidikan bangsa, ” urainya mengadu pada Komnas HAM.

Dari pihak wasit yang diwakili oleh Samsudin, menuturkan bahwa banyak wasit yang saat ini kesusahan dengan cara finansial disebabkan pertandingan vakum. Bahkan juga ia mengakui mesti menggadaikan surat akta rumah untuk dapat menyekolahkan anaknya. ” Efek domino ini sangats aya rasakan, lantaran sebagian besar wasit Indonesia itu kerjaannya cuma satu pintu (juga sebagai wasit), ” bukanya.

” Bahkan juga ada istri dari wasit mesti jadi tukang bersihkan lantaran tak ada pendapatan yang dapat dihandalkan. Saya juga jujur saja, hingga mesti menggadaikan surat rumah saya untuk anak saya dapat meneruskan sekolah, ” curhatnya.

Komnas HAM juga telah terima laporan dari pihak yang terasa dirugikan oleh pembekuan PSSI, serta bakal merumuskannya untuk ditindaklanjuti.

Related Posts: